"Mendengarkan suara dari langit baik berupa simfoni suara hujan, gemuruh awan, gelegar halilintar, atau rentetan kilat bersabung seringkali menjadi pemantik munculnya ide. Semua itu pada hakikatnya merupakan elemen paling dasar di dalam hidup, yakni air, udara (angin), api (cahaya), selain elemen tanah (bumi) yang kita pijak ini. Memahami suara dari langit dalam proses kreativitas penulisan puisi berarti mencoba menafsirkan sasmita, pertanda alam, pesan-pesan semesta yang merupakan ejawantah dari pesan keabadian." (Yanti Sri Budiarti)

"Menulis puisi adalah cara untuk tidak menjadi gila di tengah-tengah kegilaan hidup. Menulis puisi adalah cara untuk berbicara kepada para penguasa yang sudah tak punya rasa. Menulis puisi adalah cara untuk mencintai tanah, air, udara, dan kekasih. Karena itu, saya tak akan berhenti menulis puisi. Saya menulis puisi supaya tetap berpikir. Saya berpikir supaya tetap ada" (Agus Nasihin)


Sabtu, 26 Maret 2011

BUKU MATA KULIAH BAHASA INDONESIA




MATA KULIAH PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN
BAHASA INDONESIA
Penulis: Agus Nasihin
Cetakan pertama Maret 2011
124 Halaman - Ukuran 15 X 21 cm
Penerbit Radian Press Bandung
Rp 30.000,-

 ***
Hampir delapan belas tahun saya menjadi dosen mata kuliah MPK Bahasa Indonesia. Pada setiap awal pertemuan saya meminta pendapat mahasiswa secara tertulis, apakah mereka masih perlu mempelajari bahasa Indonesia di perguruan tinggi? (untuk menjamin kejujuran mereka diminta untuk tidak mencantumkan nama diri). Saya menduga mahasiswa akan berpendapat bahwa bahasa Indonesia tidak perlu dipelajari lagi karena mereka telah mempelajarinya sejak SD. Akan tetapi, dugaan saya selalu tidak benar, ternyata mahasiswa selalu berpendapat bahwa mereka belum menguasai bahasa Indonesia dengan baik; mereka masih perlu mempelajari bahasa Indonesia karena bahasa Indonesia yang mereka gunakan sehari-hari berbeda dengan bahasa akademis-ilmiah.
  
Ketidakmampuan mahasiswa dalam menggunakan bahasa Indonesia yang baik karena mereka tidak memiliki sikap positif, kalau tidak mau dikatakan tidak peduli terhadap bahasa Indonesia. Mereka hanya peduli ketika mengikuti pelajaran bahasa Indonesia saja. Hal ini biasanya ditandai dengan tidak adanya kesetiaan berbahasa, hilangnya kebanggaan berbahasa, dan tidak munculnya kesadaran akan norma berbahasa (Arifin dan Amran Tasai, 2000:1). 
 
Pembelajaran bahasa Indonesia bertujuan agar mahasiswa sebagai pengguna bahasa Indonesia mengetahui bahwa ketika berbahasa perlu adanya paradigma atau norma bahasa. Hal ini patut diketahui sebab orang yang taat kaidah dan terampil berbahasa menunjukkan keintelektualan dalam berbicara dan berpikir. Untuk kepentingan itulah buku yang sederhana ini saya buat. Buku ini lebih tampak sebagai pokok-pokok pembahasan daripada sebagai buku teks.

~ AGUS NASIHIN - PENULIS ~ 




Untuk Pembelian / Pesan Antar Wilayah Bandung hubungi:
Sanggar Buku
Telp. / SMS: 022 9526 1794

* * *
RADIAN PRESS
Jl. Pelindung Hewan No. 27 Bandung 40243
Telp./SMS: 02270695381; 08156422678

* * *
Kios Sastra - Majelis Sastra Bandung
KEBUN SENI - Jl. Tamansari No. 69
Parkir 3 Kebun Binatang Bandung
* * *